Jumat, 14 Januari 2011

my idol......

my love......ternyata setelah di lihat-lihat ne cowok cakep juga ya......





muach...muach... kapan ya ketemu cowok kayak begini ni.... :D wkwkwkwkwkwkw


oh.... my GOD expresix bagaimana pun dia ttp cakep...banget...huft....ngidap apa ne orang tuanya,sampai bisa menghasilkan anak cakep begini.....mau dong rahasianya wkwkwkwkwkwkwkw



nah....ini dia pasangan SERASI!!!  cocokKAN???...wkwkwkwkwkwkwk

Rabu, 05 Januari 2011

BERPACARAN SESUAI KEHENDAK ALLAH

Keputusan penting yang harus kita lakukan dalam hidup ini, setelah keselamatan adalah keputusan untuk menentukan jodoh dan menikah.

Tuhan memberikan kepada kita secara alamiah keinginan untuk memiliki teman hidup. Pelajaran ini sangat penting untuk dilakukan, supaya berkat Tuhan itu turun dalam pernikahan kita.

Karena pernikahan adalan dasar bangunan untuk sebuah keluarga yang kita bangun, kurang pengertian dalam hal ini akan melemahkan dasar atau fondasi keluarga yang kita bangun, dengan demikian mempengaruhi gereja Tuhan dan masyarakat atau negara.

Dengan melakukan masa perkenalan yang kudus, berarti kita menghormati Tuhan yang menciptakan pernikahan, maka dengan sendirinya kita akan mempererat hubungan kita dengan Tuhan.



Ibrani 13:4- 5: ’Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap pernikahan, dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur……………..karena Allah telah berfirman, Aku sekali-kali tidak akan membiarkan kamu dan aku sekali-kali tidak akan meninggalkan kamu.’



Berpacaran (dating) atau berkenalan (courtship)?



Istilah pacaran muncul sejak dari jaman Romawi kuno. Pada jaman itu, wanita-wanita kaya yang ditinggalkan oleh suami mereka karena urusan dagang, merasa kesepian, lalu mereka bercumbu dengan pembantu laki-laki mereka (seperti isteri Potifar yang mengingini Yusuf). Lalu istilah pacaran ini menyebar kepada para gadis dan menjadi terkenal sampai sekarang.



Arti kata ‘pacaran’ itu adalah, mempunyai rasa tertarik kepada lawan jenis dan mengolah rasa tertarik ini dalam pikiran, penampilan, tulisan, dalam percakapan maupun melalui setiap kejadian.



Bentuk pacaran sudah dicatat dalam Alkitab sejak dalam kitab Kejadian, Kej. 6: 1- 7.

Ayat ke 2 : ’maka anak-anak Allah melihat bahwa anak anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil ister idari perempuan itu siapa saja yang di- sukainya.’

Ayat 5- 6: ’Ketika di lihat Tuhan bahwa kejahatan manusia besar dibumi…..segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan….maka menyesallah Tuhan, bahwa Dia telah menjadikan manusia dibumi’.



Tuhan membinasakan manusia pada zaman Nuh, dengan salah satu alasannya adalah pacaran yang terkenal pada masa kini.

Orang-orang terkenal dalam Alkitab yang hancur hidupnya akibat pacaran adalah Simson, Daud dan Salomo.



Motivasi pacaran adalah untuk mendapatkan sesuatu yang didasari oleh nafsu, dengan tujuan kepuasan pribadi.

Salomo memperingatkan dalam Pengkotbah 11: 9: ‘Bersukarialah, hai pemuda dalam kemudaanmu……tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau kepengadilan’.



Akibatnya, pacaran tidak saja menimbulkan sakit hati (karena saling menuntut satu sama lain), tetapi sering kali membentuk dasar-dasar konflik dalam pernikahan.

Dua orang yang berpacaran, selalu hanya mau berdua-duaan, sehingga mereka acuh terhadap teman yang lain, sehingga merusak hubungan mereka dengan teman mereka masing-masing. Bahkan untuk orang yang pernah putus pacar, maka bekas pacarnya akan sangat terluka atau kepahitan dengan pacarnya yang baru. Yang paling celaka dalam pacaran yaitu akan merusak hubungan kita dengan Tuhan, karena dua orang yang berpacaran hanya memperhatikan satu sama lain.

Amsal 8: 17, ‘…Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku’.



Tragedi yang sering terjadi dalam pacaran ialah ketidak puasan dan ketidak setiaan., sehingga menyebabkan orang ganti dan pasang pacar.

Dalam masa pacaran, biasanya orang saling mengikatkan diri dan menikmati komitmen pernikahan, mereka menyia-nyiakan masa bujangan yang seharusnya menyenangkan. Setelah memasuki pernikahan mereka tidak lagi membutuhkan untuk saling memenangkan hati partnernya, karena itu suami menjadi lebih memperhatikan pekerjaannya dan isteripun mencari kesibukan sendiri, untuk menikmati masa bujangan yang sudah berlalu. Ini adalah siasat Iblis yang menipu.



Dalam pacaran laki-laki dan wanita masing-masing berusaha untuk menunjukkan kelakuan yang baik, sehingga tidak bisa mengenal siapa dia yang sebenarnya.



Masa perkenalan (Courtship)

Pada tahap ini dimana laki-laki dan wanita merasa tertarik dan memasuki masa untuk saling mengenal dengan persetujuan orang tua wanita kepada laki-laki tersebut. Dalam masa pengenalan, maka masing-masing tetap memusatkan perhatiannya atau persekutuannya dengan Tuhan (1 Kor. 7: 32).

Untuk membangun pernikahan yang kuat, kita membutuhkan berkat Allah, sedangkan berkat Allah diturunkan kalau kita tunduk atau taat kepada otoritas.



Dalam masa perkenalan perlu dilibatkan orang tua (Ayah) wanita, karena didalam pernikahan terjadi perpindahan otoritas dari ayah gadis kepada pengantin laki-laki.

Dengan demikian perzinahan dalam pacaran bisa dihindarkan.

Kalau seorang anak berontak terhadap orang tuanya dengan cara tertentu, maka dia sedang menurunkan pemberontakannya kepada anaknya sendiri, sehingga dimasa mendatang dia akan menerima buah akibat ketidaktaatannya. Ingat hukum tabur tuai.



Masa perkenalan dimulai pada saat orang serius akan memasuki pernikahan, mungkin dengan sepengetahuan orang tua, hamba Tuhan atau teman yang sudah cukup dewasa.



Pertunangan adalah masa dimana wanita menyetujui untuk menerima perlindungan

pemuda dalam menuju pernikahan.

Masa pengenalan ini tidak boleh terlalu lama, karena Tuhan menciptakan wanita untuk menahan nafsunya dalam jangka waktu tertentu dan akan meledak dalam awal pernikahan.



Untuk menghindari dosa dalam moral dimasa perkenalan perlu diperhatikan:

1. Harus memutuskan bahwa aku akan menjadi ‘wanita untuk satu pria’ atau ‘pria untuk satu wanita’.

Dengan demikian kita menerima komitmen seumur hidup dalam pernikahan dan setelah memasuki pernikahan kita tidak lagi menginginkan yang lain, tetapi bekerja sama dengan pasangan kita untuk mencapai kesatuan.

2. Merubah cara pacaran pada umumnya dengan masa pengenalan yang dewasa.

Untuk merubah pacaran menjadi pengenalan diantara satu sama lain, kita harus percaya bahwa Tuhan mempunyai rencana dalam hidup kita, dan ini hanya bisa terjadi kalau kita terus mempererat persekutuan kita dengan Tuhan.

3. Jangan menjamah,

1 Kor. 7: 1:’…….Adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin’, dalam bahasa aslinya berbunyi ’tidak menjamah wanita’, berarti tidak melakukan hubungan badan dengan wanita.



Hasil penelitian mengatakan bahwa 80% masalah keluarga disebabkan oleh masa pacaran yang tidak kudus.



Alasan berpacaran yang yang salah:

· Masalah usia

· Rasa kesepian.

· Desakan dari orang tua atau teman.

· Merasa suka dan cocok.

· Materi.

· Asmara atau ketertarikan jasmani.

· Biologis, khusus untuk pria karena nafsu.



Menentukan jodoh sesuai kehendak Tuhan:






keluarga Allah

individu





keluarga



I. Secara individu.

· Prinsip 2 Kor. 6:14: ’Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tidak percaya. (Ezra 10, Maleakhi 2: 11).

* Berdoa, untuk benar-benar yakin akan kehendak Tuhan. Orang-orang tertentu mengatakan diberi tahu oleh Tuhan jodohnya, tetapi jangan jadikan patokan dalam mencari jodoh, karena ini pengalaman pribadi. Sangat subjective!
* Dalam masa perkenalan jangan tergiur dengan kelebihan partner, tetapi usahakan terus mencari kelemahannya, sehingga bisa bekerja sama untuk saling menyesuaikan.







Hubungan emosi dan logika:












Dalam mencari pasangan hidup, perlu dipikirkan :



1. Pria harus lebih dewasa rohani dari pada wanita.

Di Kej. 2 :16- 17…Allah memberi perintah kepada Adam, sebelum Hawa diciptakan. Hal ini sangat penting supaya pria bisa mengasihi isterinya dan isteri bisa tunduk kepada suami.

2. Pasangan hidup harus seorang yang menghormati dan mengasihi orang tua, seperti tertulis dalam Efesus 6:2 ‘ .….supaya panjang umur dan bahagia’.

3. Seorang yang mengasihi diri sendiri (tidak berarti egois), sehingga tidak menuntut dan merongrong.

Orang dari keluarga broken home, cenderung untuk menuntut dalan pacaran, egois, possessive, curiga dan cemburu.

4. Mempunyai tujuan hidup yang sama, apalagi kalau ada panggilan melayani full- time. Sebaiknya laki-laki menentukan tujuan hidupnya dahulu baru mencaari pasangan hidup.



Keintiman menyangkut: emosi, sex, social (gereja, teman sekerja, keluarga), rekreasi dan intelektual.



II. Keluarga

Minta persetujuan orang tua dan pendapat sanak- saudara. Dalam statistik, jodoh yang di restui orang tua, menunjukkan turunnya angka perceraian.

Mat. 22: 37 dan 1 Petrus 4:2- 3, hati-hati dengan mengikuti kehendak manusia, terutama yang belum mengenal Tuhan.


III. Gembala atau penatua dan saudara seiman

Orang-orang dalam keluarga Allah mengambil bagian penting dalam memberikan pandangan tentang pasangan hidup. Tetapi biasanya orang datang kepada gembala atau penatua hanya minta direstui dan diberkati.



Untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan pasti, ketiga hal diatas sangat penting, ketiga-tiganya sama penting, dan harus disetujui oleh ketiga-tiganya.



Kalau kehendak Tuhan:

* Keberhasilan dalam sekolah dan pekerjaan.
* Kemajuan rohani (aktif pelayanan, karakter menjadi dewasa).
* Orang tua menyetujui dan orang sekitar kita mendukung.



Kesalahan dalam pacaran:

1. Jangan berpacaran dengan harapan partner akan bertobat.

2. Jangan kuatir dengn paras wajah, tetapi perhatikan karakternya.

3. Ragu-ragu karena tidak mendengar suara Tuhan siapa jodohnya.

4. Tidak semua orang akan kawin (Mat.19: 12).



Ada 4 macam persahabatan.



a. Complete love. b. Self- giving love c. Friendship d. Lust.











Sejauh apa kita boleh pacaran? Sebatas apa?

* Mat. 5: 27 ‘………..setiap orang yang memandang wanita serta menginginkannya, sudah berzinah dalam hatinya’
* Mat.15: 18, 19 ‘……apa yang keluar dari mulut berasal dari hati………dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan………’
* Rom. 13: 13 ‘… ….jangan hidup dalam pesta pora, kemabukan, percabulan dan hawa nafsu’
* 2 Petr. 2: 14 ‘… …..mata mereka penuh nafsu zinah dan tidak jemu berbuat dosa…….mereka adalah orang-orang terkutuk’
* Yudas 1 : 7 ‘………Sama seperti Sodom dan Gomora dan kota sekitarnya yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai

peringatan kepada semua orang’



Alkitab tidak menulis secara jelas, boleh atau tidak pacaran, dan sejauh apa kita boleh pacaran, tetapi Alkitab menulis dengan jelas, setiap perbuatan yang menimbulkan hawa nafsu atau rangsangan adalah perbuatan zinah dihadapan Tuhan. Rangsangan yang menimbulkan nafsu berahi adalah dosa diluar hubungan pernikahan, tetapi hal itu kudus dalam ikatan pernikahan.



Jadi dalam pacaran tidak dilarang untuk ciuman, pegangan tangan, pelukan, dan tidak di-batasi berapa lama boleh pelukan dsb, tetapi yang sangat penting yaitu tidak boleh menimbulkan nafsu berahi dan terangsang : untuk Andi pelukan selama15 detik tidak menimbulkan nafsu, tetapi Budi tidak tahan, dalam hal ini kebudayaan memegang peranan.

Kalau kontak secara badani, baik pegangan tangan, pelukan, bisa menimbulkan rangsangan lebih baik jangan dilakukan!



Pacaran masa kini, walaupun mereka tidak melakukan hubungan sex, mereka sudah sampai ‘heavy patting’ artinya, ciuman, pelukan, saling meraba sehingga menimbulkan nafsu birahi.



Nafsu birahi:

* Nafsu berahi tidak pernah bisa dipuaskan karena itu adalah sesuatu yang bersifat menuntut, sedangkan kasih itu memberi. Panca indera kita cenderung menuntut lebih dan lebih, misalnya mata, rabaan.
* Nafsu berahi bisa dikontrol, karena manusia diciptakan sesuai gambaran Allah dan Tuhan sendiri memberi kekuatan untuk itu. Binatang tidak bisa mengkontrol nafsu tetapi dikontrol nafsu.

Contoh:

Program safe-sex, menganjurkan agar anak remaja diberi kondom, dan orang tua mengijinkan anak remajanya melakukan hubungan sex d- rumah. Program ini menyamakan manusia dengan binatang.

* Nafsu berahi yang tidak bisa dikontrol merupakan dosa yang berasal dari dalam hati, 1Kor. 6: 18: ’…Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri’. Karena itu, orang-orang ini harus mengakui dosanya dihadapan Tuhan dan belajar menguduskan diri dari rangsangan sex.
* Orang yang mempunyai masalah dengan nafsu berahi sebelum menikah, kalau tidak diselesaikan atau bertobat, akan terus terbawa dalam pernikahan dan mengakibatkan penyelewengan sex. Hawa nafsu hanya bisa dipuaskan dengan hubungan sex, dan hubungan sex yang satu disambung dengan yang berikutnya.





Perbedaan laki-laki dan wanita



Nafsu birahi:

· Laki-laki: terangsang melalui mata karena melihat, lalu ingin memiliki, karena stimulasi horman menimbulkan nafsu berahi.

· Wanita: nafsu berahi timbul atau terangsang melalui perkataan yang manis, yang merayu, karena wanita memakai perasaan dan nafsunya bangkit dengan lambat melalui pegangan, rayuan, rabaan dan ciuman.

Karena itu laki-laki sangat terangsang dengan wanita yang memakai rok mini atau yang menunjukkan bagian dari tubuhnya (perut atau payu- dara, rok yang cowak dan ketat), sedangkan wanita tidak pernah tertarik dengan laki-laki yang terbuka bajunya, sebaliknya denga laki-laki yang jantan dalam karakter, gagah dan bersifat bisa melindungi.



Sex:

· Laki-laki: bagi laki-laki hubungan sex adalah hasil akhir dari suatu hubungan.

· Wanita: sex sebagai suatu bagian kecil dari hubungan yang luas.

Karena itu laki-laki yang selalu menginginkan huungan sex dalam pacaran, akan meninggalkan pacarnya setelah mendapatkan itu.



Pacaran yang sebenarnya:

Immature covenant (low commitment)





intimacy mature Grace – to forgive and be forgiven

to know and be known



Empowering – to serve and be served



Pacaran dimulai dengan sedikit komitmen, dengan berjalannya waktu bertambah komitmennya, sehingga timbul trust (percaya) dan security, karena bertambahnya kasih anugerah Allah dalam hubungan itu, terjadi mengampuni dan diampuni dalam perbedaan-perbedaan yang ada. Hubungan ini terus bertumbuh, sampai bisa saling melayani, saling mendorong untuk sukses, dan terarah kepada keintiman yang lebih dalam yaitu, mengerti, saling mengenal dan memperhatikan, melengkapi, baru kemudian memasuki pernikahan.


Umur berapa boleh pacaran?

Menurut penyelidikan anak-anak masa puber masih tidak stabil, mencari identitas diri, dan pikiran belum dewasa, karena kalau dewasa pemikiran bisa berubah, karena itu jangan pacaran dulu.

Sampai umur 27 tahun, sebenarnya manusia masih dalam tahap mencari identitas diri.

Menurut Bill Gothard, sampai umur 27 tahun lebih baik melayani Tuhan dulu, baru sesudah itu memikirkan jodoh.


Apakah hanya ada satu jodoh?

Jawabnya: tidak!

Dalam perjalanan hidup seseorang, sebelum dia dewasa secara rohani atau umur, dia bisa tertarik dengan orang yang belum dewasa rohaninya, tetapi Tuhan selalu turut bekerja sama, untuk membentuk karakternya.

Setelah orang menjadi dewasa, dia akan cenderung mencari pasangan yang seimbang, yaitu yang dewasa rohaninya.

Manusia bertumbuh terus jiwanya, pemikiran, keinginan dan perasaannya, karena itu sebelum siap untuk menikah, jangan pacaran dulu.

apakah pelayanan sebenarnya....

2. Makna Pelayanan menurut Alkitab
Secara etimologi, kata “pelayanan” memiliki makna yang amat kompleks. Dalam bahasa Yunani digunakan beberapa istilah, yaitu:
  1. δουλοω (douloõ) – melayani sebagai hamba (budak!). Pada zaman PB, seorang budak dapat dibeli atau dijual sebagai komoditi. David Watson menyatakan: “Seorang budak adalah seorang yang sama sekali tidak memiliki kepentingan diri sendiri. Dalam ketaatan penuh kerendahan hati ia hanya bisa berkata dan bertindak atas nama tuannya. Dalam hal ini tuannya berbicara dan bertindak melalui dia”. Benar-benar tak berdaya. Sebagai orang percaya, kita sekalian adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba (doulos) kebenaran (Roma 6:18), menjadi hamba Allah (Roma 6:22).
  2. διακονεω (diakoneõ) – melayani sebagai pelayan dapur, yang menantikan perintah di sekitar meja makan (Mat. 8:15; Efs. 4:12). Ini bukan pekerjaan yang menyenangkan, karena seringkali ia akan menerima dampratan dari orang yang merasa kurang puas dilayani. Dalam arti luas kata ini menyatakan seseorang yang memperhatikan kebutuhan orang lain, kemudian berupaya untuk dapat menolong memenuhi kebutuhan itu. Orang bisa saja bekerja sebagai budak (doulos) dan tidak menolong seorangpun; tetapijika ia seorang diakonos, ia berkaitan erat dengan upaya menolong orang lain (Luk 22:27; Yoh. 12:26; ! Tim. 3:13) 
  3. υπηρετης (hypérètés) – melayani sebagai bawahan terhadap atasannya. Duane Dunham menyatakan bahwa seorang hyperetes adalah seorang yang segera memberi-kan tanggapan dan tidak banyak tanya tentang tugas yang dipercayakan kepadanya. Dalam bidang pelayan ia adalah seorang kelasi kapal. Dalam Kisah 24:13 kita melihat sahabat-sahabat Paulus bertindak selaku hypérètés  terhadap Paulus, yaitu menolong hamba Tuhan lain agar pelayanan-nya menjadi lebih efektif.
  4. λιτουργικος (litourgikos) – melayani orang lain di depan publik (Kisah 13:2). Pelayanan ini dilakukan kepada sejumlah orang pada saat yang bersamaan, sehingga harus direncanakan dan terus ditingkatkan
Jadi setiap pelayan Tuhan adalah: seorang hamba (budak) Kristus (doulos), seorang pelayan yang selalu rindu menolong orang lain dalam memenuhi kebutuhannya (diakonos), seorang yang tidak diperhitungkan namun pelayanannya amat dibutuhkan (hypérètés), seorang yang disorot oleh banyak orang (litourgikos).
3. Obyek Pelayanan
Siapakah yang kita layani? Sebagai pelayan Tuhan, kita harus sadar bahwa kita melayani TUHAN, Allah Pencipta langit dan bumi. Nabi Elia, misalnya, selalu menyatakan “Demi TUHAN yang kulayani” ketika ia menyampaikan firman TUHAN kepada umat-Nya (1 Raja 17:1; 18:15). Rasul Paulus pun menyatakan hal yang sama (Roma 1:9).
Berikutnya, dalam melayani TUHAN itu kita juga melayani saudara seiman dan sesama. Itu berarti bahwa memahami kebutuhan manusia dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kita.

4. Tujuan Pelayanan
Tujuan pelayanan yang kita lakukan adalah untuk menggenapi rencana Allah bagi seluruh umat manusia dan untuk memuliakan nama-Nya. Apa pun yang kita katakan atau lakukan adalah demi nama Tuhan dan bagi kemuliaan-Nya, termasuk sebagai usher dan kolektan (Kol. 3:17).
5. Dasar Dan Motivasi Pelayanan
5.1. Motivasi Umum
Setiap kali seseorang melakukan sesuatu, ia pasti memiliki suatu dorongan tertentu untuk mau melakukan hal itu. Dorongan itu disebut motivasi. Jadi motivasi adalah “daya gerak yang mencakup dorongan, alasan, dan kemauan yang timbul dalam diri seseorang yang menyebabkan dia berbuat sesuatu.”
Banyak hal yang bisa dijadikan dasar dan motivasi dalam melayani, tetapi hanya ada dua hal penting yang membuat seseorang dapat tetap bertahan dalam pelayanan
Pada umumnya dikenal 3 (tiga) bentuk motivasi.
  1.  Motivasi Ketakutan (Fear Motivation), yaitu motivasi karena adanya rasa takut. Orang mau melakukan sesuatu karena takut akan adanya paksaan atau tekanan dari berbagai pihak. Ia takut akan akibatnya jika ia tidak melakukan hal itu.
  2. Motivasi Imbalan (Incentive Motivation), yaitu motivasi karena adanya imbalan (intensif). Imbalan ini bisa berupa pujian, prestise, promosi atau penghargaan.
  3. Motivasi Sikap (Attitude Motivation), yaitu motivasi yang berhubungan erat dengan tujuan-tujuan yang bersifat pribadi, bukan dari luar. Bentuk ini juga disebut Motivasi Diri (Self Motivation).
Dalam bukunya yang berjudul Master Builders, Bob Gordon menyatakan bahwa pada umumnya dalam melakukan sesuatu kita, orang-orang Kristen dimotivasi oleh hal-hal berikut :

Negatif
Netral Positif
 5.2. Sumber Motivasi

Darimana motivasi itu timbul? Pada umumnya ada tiga sumber motivasi :
  1. Biogenesis – yaitu keberadaan orang itu sendiri. Sejak awal orang seperti ini memang sudah aktif dan agresif. Ia mampu membangun motivasi diri dengan baik. Orang seperti ini memiliki prinsip hidup yang amat kuat, dan rasa percaya diri yang amat besar.
  2. Sosiogenetis – yaitu lingkungan sekitar. Seorang anak akan makan lebih banyak jika ia diletakkan di tengah-tengah lingkungan orang lain yang juga sedang makan dnegan lahapnya. Orang yang tidak mampu berbahasa Inggris “dipaksa” untuk bisa mengguna-kan bahasa itu jika ia diterjunkan di tengah lingkungan yang berbahasa Inggris.
  3. Teogenesis – yaitu dari Tuhan, sifatnya supranatural. Contoh yang sangat jelas adalah motivasi Rasul Paulus dalam memberitakan Injil (Kisah 26:19)
5.3. Motivasi Alkitabiah
Setelah kita memahami hakekat pelayanan, pertanyaan berikutnya adalah “apa yang bisa membuat seseorang mau melayani?” Saya melihat setidaknya ada 5 (lima) hal yang dapat memotivasi kita melayani Tuhan.
  1. Motivasi Ketaatan, yaitu ketaatan untuk melakukan perintah Tuhan yang meme-rintahkan kita agar melayani Tuhan dan sesama, yaitu membuat orang yang kita layani semakin mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan (Mat. 22:37-39).
  2. Motivasi Kasih, yaitu kasih akan sesama seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus sendiri ketika Ia melihat orang banyak “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mat. 9:36), terlebiih kepada mereka yang masih terhilang dalam dosa. Setiap jiwa amat berharga di hadapan Allah.
  3. Motivasi Keteladanan, yaitu kerinduan meneladani apa yang Tuhan Yesus lakukan saat Ia berkata bahwa Ia datang untuk melayani (Mrk. 10:45). Bahkan Ia mengatakan bahwa kita dimampukan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari yang dilakukan-Nya (Yoh. 14:12).
  4. Motivasi Regeneratif, yaitu melihat ke depan, dimana masa depan gereja dan kekristenan ada di tangan orang-orang yang kita layani sekarang. Kita harus menghasil-kan keturunan ilahi (Mal. 2:15), serta mewariskan iman yang hidup itu kepada generasi yang kemudian (2 Tim. 1:5).
  5. Motivasi Eskhatologis, yaitu melakukan tindakan preventif agar mereka tidak menjadi generasi yang rusak, sebagaimana yang diingatkan oleh Rasul Paulus tentang kondisi zaman akhir (2 Tim. 3:1-5)